JAKARTA—Kementerian  Pertahanan Republik Indonesia c.q Badan Sarana Pertahanan menyelenggarakan Diskusi Panel Kelaikan Militer, di Jakarta, Kamis, (20/7) yang menghadirkan narasumber dari Direktorat Kelaikan dan para pelaku penyedia alat utama pertahanan (alutsista).

Narasumber diskusi panel tersebut diantaranya beasal Pejabat Kementerian Pertahanan, PT Daya Radar Utama serta pelaku industri alutsista lainnya di Indonesia. DRU menghadirkan Direktur Teknik  M. Affandy yang  memaparkan makalah berjudul Penerapan, Manfaat dan Tantangan Kelaikan Militer.

Affandy memulai paparan dengan data-data statistik kecelakaan kapal di Indonesia dengan merujuk kepada data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). “Faktor-faktor kecelakaan terbesar pada kapal karena human error yang mencapai 65% dan 24% kesalahan teknis,” katanya.

Menurut dia, kelaikan sangat perlu dijalankan sebagai salah satu aspek penting untuk menjamin kualitas produk kapal. Namun, katanya, tantangan sebenarnya adalah kurangnya perhatian terhadap aspek keselamatan/kelaikan terhadap kapal serta human error.

Sementara itu, Kepala Pusat Kelaikan (Kapuslaik) Kementerian Pertahanan Laksamana Pertama Edy Sulistyadi mengatakan kementeriannya saat ini secara bertahap sedang merevisi aturan-aturan untuk disesuaikan dengan Peraturan Menteri Pertahanan No.33 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Kelaikan Militer untuk Mendukung Pertahanan Negara.

“Kita secara bertahap menyesuaikan aturan-aturan kelaikan sebelumnya untuk disesuaikan dengan kondisi yang ada, khususnya Peraturan Menteri Pertahanan No.33 tahun 2014 tersebut,” katanya saat menjadi pembicara.

Dia menjelaskan, dalam menyelenggarakan kegiatan kelaikan, pihaknya berpedoman  kepada peraturan Menhan tersebut. Dia juga memastikan, jika suatu material sudah dinyatakan laik oleh Kementerian Pertahanan, maka tidak ada penilaian kelaikan dari lembaga lain. (*)